THIS BLOG IS UNDER CONSTRUCTIONS
Selamat datang di Blog Magic Dakwah. Contact Us: 081 250 16 3663. atau 1924magic@gmail.com. Follow Us: @Magicdakwah
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Selasa, 29 Mei 2012

Dakwah bil Qolam: Melawan dengan Cinta *)



Menghadirkan dakwah lewat tulisan bukan perkara yang asing lagi dewasa ini. FLP termasuk pionir yang sukses mempelopori da’wah bil qolam dengan karya-karyanya yang menggungah. Saya sendiri, tumbuh menjadi remaja dengan mengagumi goresan pena Izzatul Jannah, Helvy Tiana Rosa, dan Afifah Afra. Nuansa islami yang begitu kental mewarnai setiap tulisannya, menyihir saya untuk terpikat dan membayangkan betapa indahnya kehidupan yang berbalut ukhuwah Islam dan ketaatan kepada syariat.



http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-prn1/554754_3595082669734_1053457220_33281818_1336201044_a.jpg

Tapi alangkah kecewanya saya, ketika semasa SMA saya mencoba kembali mengakrabi karya-karya FLP, yang saya temukan kebanyakan adalah karya-karya picisan yang menghadirkan Islam hanya sebagai pembungkus dan bumbu, tapi hilang esensi. Novel dan cerpen Islami tak lebih dari kisahan ikhwan dan akhwat yang saling mencintai dan berusaha menjaga iffah masing-masing sambil sesekali terserempet hawa nafsu yang dengan mudahnya ditutupi –atau disangka telah terbayar- oleh istighfar. Jika tidak begitu, maka cerita yang diangkat kurang lebih tentang cewek hedon yang jatuh cinta dengan ikhwan sholeh lagi tampan (wajahnya bersih bersinar karena sering dialiri air wudhu, hehehe). Pendek cerita, cinta platonik pun melanda. Di ending, jeng…jeng…jeng…si cewek hedon pun jadi akhwat. Klasik sekali, bukan?


Tampaknya kini, hampir semua fiksi berlabel ‘Islami’- baik dari FLP atau bukan- akan menghadirkan cerita serupa. Ironisnya, hal ini juga melanda penulis-penulis Islam ideologis. Penggiat karya Islami dewasa ini bisa dikatakan mulai kehilangan ide. Maksud hati memikat perhatian pasar, tapi justru kering dari nilai-nilai yang seharusnya dihadirkan. Maka agar tidak kehilangan esensi keislaman dan muatan dakwah, penerbit-penerbit idealis lebih suka mencari jalur standar dengan menerbitkan karya-karya non fiksi yang jelas-jelas berbicara mengenai perbaikan akhlak dan kepribadian Islam. Sayangnya, tulisan semacam ini hingga sekarang masih sepi peminat, terutama dari kalangan remaja yang notabene adalah pasar yang sangat potensial untuk dirambah. Stigma bahwa karya-karya Islami cenderung menggurui, membosankan, dan tidak meremaja sepertinya masih sulit dipecahkan.
***

Cukup mengginspirasi. Karya-karya Anomali yang mulai diluncuran tahun 2006 berusaha menjawab tantangan ini. Dimulai dari kritik-kritik pedas Chio yang diramu dalam Jangan Sadarin Jilbaber, Jangan Sadarin Cowok, dan ‘Jangan Sadarin’ yang lain, lalu berlanjut dengan Menggenggam Bara Islam persembahan Abay dan AlQandas AlKamil milik Akin, ide-ide dakwah pun mampu dikemas dengan sederhana namun tetap memukau dan meremaja.       

Sebelumnya, bukan tidak ada karya serupa yang mengemas dakwah dengan gaul. O.Solihin sudah lebih dulu memulainnya. Sayangnya, gaya penulisan O.Solihin kini sudah bisa terbaca (mungkin karena saking seringnya saya membaca tulisan beliau J). Berbeda dengan karya-karya Anomali yang cenderung mengagetkan dan selalu menghadirkan hal-hal kecil yang luput dari perhatian kita namun begitu penting untuk direnungkan.

Uniknya, meski dengan bermodal kertas buram dan cover tipis, buku-buku mini mereka mampu memikat remaja. Selain karna harganya yang pas dengan isi kocek, isinya yang tipis dan bahasanya yang ringan pun bisa dilumat habis sekali duduk. Bahkan, pembaca diizinkan memfotokopi asal tidak untuk kepentingan komersil. Singkatnya, Anomali itu seperti kerupuk. Ringan, renyah, dan enak dibawa kemana-mana.
***

Di antara semua buah karya Anomali, tulisan Abay Abu Hamzah paling memikat saya. Bukan bermaksud mengecilkan peran tulisan penulis-penulis lain, tapi semata-mata karena tulisan ini memiliki gaya khasnya tersendiri. Ia menggugah tanpa perlu mendayu-dayu atau memaki-maki. Dia mampu menghadirkan ide-ide hebat dengan sederhana dan bisa diterima semua kalangan pembaca.

Dimulai dari Menggenggam Bara yang secara sistematis menuturkan bagaimana seorang muslim seharusnya membangun keimanan yang kokoh dan membuktikan ikrar keimanannya dalam tindakan nyata. Awalnya, saya pikir karya ini akan membosankan. Selain karena materi yang dihadirkan adalah materi akidah yang sudah begitu lumrah, saya juga sudah merasa kenyang dengan gaya bertutur yang bagitu formil dan tertata. Tapi rupanya, karya Abay mengubah persepsi saya.

Ternyata, bahasa yang halus dan sopan tidak selalu membosankan. Justru dengan begitu, terkesan kuat penulisnya begitu tulus dan jujur menyampaikan nasehat. Abay selalu berusaha menyentuh perasaan pembaca dengan mengajak mereka berpikir dan melakukan refleksi diri bersama-sama. Bahasanya tidak menggurui, sederhana, namun tidak menghilangkan kesan intelek dan sistematis di dalamnya. Gayanya khas. Membaca karya Abay, rasa-rasanya semua dilandasi karena cinta.Ya, Cinta. Di sinilah pertama kali saya menemukan bahasa penuh cinta yang tidak berbunga-bunga dan tidak penuh nuansa merah jambu, tapi justru merah menyala. Inilah bahasa dakwah yang dilandasi cinta karena Allah.

Sebenarnya, tema yang dibawa Abay sudah pernah dibahas banyak orang. Tapi Abay menghadirkannya dengan berbeda. Ia selalu mengingatkan hal-hal kecil yang terkadang kita lupa, dan membuat kita berujar “Oh, iya, ya”. Seperti saat ia membahas membaca tentang makna istiqomah.

Jangan pikir, bahwa orang yang istiqomah adalah orang yang serba memiliki fasilitas untuk melakukan kebaikan dan menghindari keburukan. Seorang gadis yang tumbuh di keluarga pesantren, kemudian dia tidak banyak bermaksiat, dia menutup aurat dengan baik, dia banyak menghafal Al-Qur’an, dan segudang kebaikan lainya, belumlah teruji keistiqomahannya…Seorang akhwat yang mengenakan jilbab saat kuliah, kemudian pihak perguruan tinggi mengancam untuk memberhentikannya dari perkuliahan jia ia tetap mengenakan jilbabnya, tetapi akhwat tersebut tetap dengan ketaatannya kepada Allah, itulah istiqomah…
Istiqomah akan terbukti dengan diuji…Siapkah kita dengan konsekuensi do’a tersebut? Harus!

Muatan-muatan penuh hikmah selalu menyertai setiap alinea yang ditulisnya. Bukan muatan hikmah biasa, tapi hikmah yang ideologis. Sehingga setiap kalimat menjadi penting dan sayang untuk dilewatkan. Bahkan, sejak kata pertama yang dihadirkannya di cover depan, Abay sudah memikat pembaca, seperti pada buku Revolusi dari Rumah Kami:

Seperti aku, tentu kau juga sudah jengah membincang pernikahan dalam suasana merah jambu. Mari bersamaku, membincangnya dengan warna merah menyala. Ya, pernikahan adalah tungku yang memanaskan hawa perjuangan. Hingga kelak, kita akan berkata dengan bangga: “Rabbi, Revolusi ini berawal dari rumah kami!”

Tak ada gading yang tak retak. Karya Abay saya kupas di sini bukan tanpa cacat. Ada juga kok bagian yang terkadang dirasa bertele-tele. Misalkan ketika Abay mengkritik tentang dakwah yang da’i-oriented dalam Melawan dengan Cinta:

Karena berfokus pada da’i, biasanya dakwah yang dilakukannya juga sporadis. Dia tidak pernah menakar-nakar lagi apakah dakwahnya efektif atau tidak. Tidak pernah ia menghitung-hitung lagi apakah dakwahnya bisa sampai atau tidak. Tidak pernah ia mempertimbangkan apakah orang bisa menerima dakwahnya atau tidak.

Tampaknya Abay berusaha menekankan betapa buruknya sikap dakwah yang egois dan sporadis. Namun karena terlalu banyak mengulang-ulang kata yang sama dalam kalimat beruntun yang maknanya saling berdekatan, tercipta kesan sedikit membosankan. Apalagi hal ini berulang di subbab-subbab berikutnya. Padahal, kata-kata di atas sebenarnya bisa dibuat lebih efektif tanpa mengurangi ketersampaian pesan penulis pada pembaca.

Begitulah, secara umum karya-karya Abay layak untuk dibaca semua kalangan, tak hanya remaja, tapi juga orang dewasa, da’i, bahkan kaum pemikir. Bersama penulis-penulis Anomali lainnya, semoga karya-karya ideologis mampu mewarnai dunia remaja dan memimpin ranah dakwah bil qolam hingga Khilafah tegak di bumi Allah.
Tetaplah menjadi penulis ideologis!


*) disampaikan dalam bengkel Karya Senada Nisa’ Malang Raya kelima, 17 Mei 2012, di Serambi depan Gedung TIK Universitas Negeri Malang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...