THIS BLOG IS UNDER CONSTRUCTIONS
Selamat datang di Blog Magic Dakwah. Contact Us: 081 250 16 3663. atau 1924magic@gmail.com. Follow Us: @Magicdakwah
English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Jumat, 31 Agustus 2012

Walk in the Talk


Belajar teladan pada Mahatma Gandhi.
Oleh Hendra Madjid*

Siapapun mengenal Mahatma Gandhi. Tokoh kebangkitan India yang bersahaja. Banyak pihak menyayangkan kenapa Gandhi tidak pernah mendapatkan Nobel perdamaian. Tapi semua orang hampir pasti berani menasbihkannya sebagai tokoh dunia yang berwibawa. Penulis dulu mengira, wibawa Ghandi lahir dari kepiawaiannya berorasi sehingga mampu “menyihir” jutaan orang. Ternyata penulis keliru. Orasi Ghandi justru Nampak terlalu biasa untuk sosok jumawa Kaliber dunia.
Penulispun semakin bertanya, apa rahsia Gandhi agar didengar. Bukan hanya didengar, tapi dituruti kata-katanya. Seolah-olah kata-katanya seperti wejangan kanjeng Nabi Muhammad SAW kepada ummat Islam. Sampai akhirnya secara tidak sengaja di bukunya G. Pandev, kami menemukan cerita berikut ini.
Satu ketika Gandhi didatangi oleh seorang ibu dan anak. Tidak ada masalah dengan anak ini. Tapi sang Ibu mengeluhkan kebiasaan buruk si anak yang berlebihan dalam mengkonsumsi garam. Walau sebenarnya anak ibu ini memiliki sakit yang bisa sewaktu-waktu muncul karena kegemarannya mengkonsumsi garam. Sudah berulang kali nasihat, larangan bahkan hujatan yang dilontarkannya pada si anak. Tapi tidak mempan. Dengan membawanya pada Ghandi, besar harapan sang Ibu agar anaknya segera berubah.
“maaf Guru, tolong berikan nasihat kepada anakku ini… entah kenapa dia begitu gemar memakan garam. Padahal sakitnya bisa kambuh karena terlalu banyak garam…”
Gandhi berujar “Bu, tolong kembali ke sini seminggu lagi….”
Dengan penasaran si ibu pulang lalu kembali sepekan kemudian. Setelah kembali menghadap, alangkah bingungnya dia saat Gandhi hanya mengungkapkan: “Nak… berhentilah makan garam!” dengan nada lembut.  Ini adalah kalimat yang sama dengan apa yang ratusan kali dikeluarkan oleh sang ibu. Tapi selam ini memang tidak pernah mempan. Sehingga, sambil menahan kebingungan si Ibu pulang ke rumah sambil berharap anaknya mau menuruti nasihat Gandhi.
Dan betul, sebulan penuh si anak tak pernah lagi mengkonsumsi garam. Ibunya masih heran dan kembali kepada Gandhi. “kenapa bisa? Padahal ini adalah kalimat yang sama dengan yang sering aku katakana padanya?”. Dengan senyumnya yang khas, Gandhi lalu berkata “saat kamu datang pertama kali ke sini, waktu itu aku masih mengkonsumsi garam. Setelah seminggu aku berhenti memakan garam, barulah aku berani untuk memberikan nasihat padanya agar tidak memakan garam”. Si Ibu mengerti, bahwa yang selama ini tidak dimiliki olehnya adalah keteladanan. Sehingga wajar anaknya tidak pernah mau mengikuti nasihatnya.
Pantaslah sarja-sarjana India saat ini mampu membuat komputer sendiri, sepeda motor sendiri, Bajaj sendiri, mobil sendiri, Film sendiri (bollywood) dan hasilnya tak kalah saing jika dibandingkan dengan produk keluaran Eropa dan Amerika. Dengan kemandirian seperti ini, ditopang dengan jumlah penduduk yang besar National Intelligence Coulcil (NIC) mensinyalir India akan jadi salah satu kekuatan besar bersama China pada tahun 2020.
Karena Gandhi tanpa malu memakai kain kasar untuk memberikan contoh kepada masyarakat India untuk memakai produk dalam negeri. Kata-kata emasnya tidak terletak pada kata-kata itu sendiri. Tapi terletak pada laku, praktek, amal dan cara hidupnya sehari-hari. Para motivator sering menyebutnya sebagai Walk in the Talk. Pembicara mengamal dulu baru menyampaikan.
Barangkali, ada semacam gelombang tertentu yang dikirimkan dari wajah pembicara kepada audiensnya. Meski tidak melihat zahirnya, tapi penulis yakin orang-orang seperti Ust. Arifin Ilham juga mengirimkan gelombang itu agar jamaahnya merasakan apa yang beliau rasa. Termasuk mengamalkan apa yang beliau sajikan dalam ceramahnya. Atau bagaimana saat Ust. Yusuf Mansur mendorong ummat untuk bersedekah. Tanpa segan jamaah mengeluarkan isi kantongnya agar bersedekah. Tentu kita tahu, semua itu terjadi karena Ust. Yusuf adalah provokator sekaligus pengamal sedekah.
Bagaimana dengan Nabi Muhammad? Rasa-rasanya kita tidak perlu lagi bertanya bagaimana beliau mencontohkan dan memerintahkan kepada ummatnya. Sehingga pengaruhnya mengalahkan tokoh-tokoh besar dunia. Termasuk penilaian Michael Heart, seorang Kristen yang bahkan meletakkan Isa al Masih berada di bawah Rosulullah.
Bagi kita semua, orang-orang yang mengaku beriman dan sering berucap, berwejangan, Allah telah tandaskan hal ini di dalam Surah Ash-Shaff ayat 2 dan 3.
Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
Wajarlah jika ada yang memberi nasihat kepada orang lain tak ubahnya seperti pribahasa “masuk telinga kiri, keluar telinga kanan”. Karena kita belum beramal sebelum menyampaikan. Walau tidak selalu setiap yang kita amalkan akan diikuti orang saat kita sampaikan. Tapi setidaknya amal menjadi permulaan agar kata-kata kita tak sekadar empty wise alias kebijaksanaan yang kosong. Padahal, empty wise juga akan berakhir pada kemurkaan Tuhan kepada kita seperti yang saya sitir dalam ayat di atas.
Rindulah kita seandainya pemimpin negeri ini seperti Gandhi. Yang menyerukan agar berhemat, dan dia mengawalinya dengan laku hemat dalam memimpin negerinya seperti berangkat dengan mobil yang lebih irit. Rindulah kita pada pemimpin yang jeli sebelum berpromosi “katakanan tidak pada korupsi” namun sebelumnya telah mampu membersihkan jajaran partainya dari koruptor. Atau pimpinan sebuah instansi tertentu yang menyuruh anak buahnya agar datang tepat waktu ke kantor dengan memberi teladan datang lebih awal dari jadwal yang telah disediakan.
Perubahaan ke arah Indonesia yang lebih baik tentu berawal dari perubahan paradigma masyarakatnya tentang kehidupan. Tapi, paradigma awal yang mungkin perlu untuk kita renungkan dan amalkan bersama ialah “bisakah kita berlomba untuk menjadi teladan? Dan menjadikan keteladanan sebagai Habbits (kebiasaan) kita?”. Jika jawabnya iya, maka lihatlah, dengarlah dan rasakanlah perubahan itu sedang terjadi di sekitar kita saat ini.

*) Penulis adalah inspirator dan motivator mahasiswa dan pelajar tinggal di Amuntai

1 komentar:

  1. Terima kasih sudah ada yang rekomendasikan tulisan ini....

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...